Masgdl – Hamas NIlai Rencana Perdamaian Trump Hanya Untungkan Israel, Seorang tokoh senior Hamas menyatakan kelompok pejuang Palestina kemungkinan besar menolak proposal perdamaian yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurutnya, rencana itu hanya menguntungkan Israel dan mengabaikan kepentingan rakyat Palestina.
Penolakan ini terutama terkait syarat melucuti persenjataan Hamas dan penerapan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Gaza. Hamas menilai pengerahan pasukan internasional akan menjadi bentuk pendudukan baru di wilayah tersebut. Hingga kini, Hamas belum menyampaikan tanggapan resmi, meskipun proposal itu telah diterima Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Baca Juga: Foto Presiden Prabowo Muncul di Billboard Tel Aviv, Apa Artinya?”
Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut Hamas masih mempelajari usulan Gedung Putih dengan “cara yang bertanggung jawab.” Namun, laporan BBC mengungkap bahwa komandan militer Hamas di Gaza, Ez al-Din al-Haddad, bertekad melanjutkan perjuangan bersenjata ketimbang menerima persyaratan yang ditawarkan.
Tokoh Hamas yang berada di luar Gaza belakangan terpinggirkan dari diskusi internal. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki kendali langsung terhadap situasi di lapangan, termasuk terkait sandera.
Situasi ini menunjukkan perpecahan pandangan di tubuh Hamas, antara dorongan diplomasi dan tekad militer. Penolakan terbuka terhadap proposal dapat memperkuat posisi Israel sekaligus menempatkan Hamas dalam isolasi politik. Namun, keputusan resmi Hamas akan sangat menentukan arah konflik Gaza dan peluang diplomasi internasional di masa depan.
Hamas NIlai Rencana Perdamaian Trump Hanya Untungkan Israel, Hamas dan Faksi Palestina Lain Bahas Proposal Trump di Tengah Penolakan
Perundingan internal Hamas mengenai proposal perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan berlangsung beberapa hari. Proses itu juga melibatkan faksi Palestina lainnya, termasuk Jihad Islam Palestina (PIJ). Namun, PIJ secara tegas menolak usulan tersebut pada Selasa (30/9/2025).
Bagi Hamas, poin paling krusial adalah syarat menyerahkan seluruh sandera sekaligus. Hamas menganggap hal itu menghilangkan satu-satunya alat tawar dalam negosiasi. Selain itu, mereka tidak mempercayai Israel akan menghentikan operasi militer setelah menerima sandera. Ketidakpercayaan semakin besar setelah upaya pembunuhan pimpinan Hamas di Doha awal bulan ini.
“Baca Juga: Hamas Pertimbangkan Proposal Perdamaian Gaza dari Trump”
Proposal Trump juga menampilkan peta Gaza dengan rencana zona penyangga di perbatasan selatan dengan Mesir. Belum jelas siapa yang akan mengelola zona tersebut. Jika Israel terlibat, hal ini berpotensi memicu perdebatan sengit dalam proses perundingan.
Latar belakang konflik tetap membayangi pembahasan. Militer Israel melancarkan operasi besar di Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 warga Israel disandera.
Sejak saat itu, Gaza mengalami serangan intensif dari Israel. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, sedikitnya 66.097 orang tewas akibat operasi militer Israel.
Ke depan, perundingan ini akan menentukan apakah Hamas siap membuka ruang kompromi atau tetap menolak. Dengan kondisi lapangan yang rapuh, keputusan Hamas akan sangat memengaruhi arah konflik dan peluang diplomasi di Gaza.




Leave a Reply