masgdl.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini nilai tukar rupiah memiliki peluang besar untuk menguat.
Ia menilai rupiah dapat bergerak hingga level Rp15.000 per dolar Amerika Serikat.
Keyakinan tersebut disampaikan Purbaya dalam Indonesia Economic Summit 2026 di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, penguatan rupiah bukan target yang sulit dicapai dalam kondisi tertentu.
“Kalau rupiah bergerak ke sekitar Rp15.000 per dolar AS, itu tidak terlalu sulit,” kata Purbaya.
Ia menegaskan pendapat itu bersifat pribadi dan bukan mewakili bank sentral.
Purbaya menyebut bahwa jika berada di posisi otoritas moneter, level tersebut relatif realistis.
Ia menilai ruang penguatan masih terbuka dengan dukungan kebijakan dan fundamental ekonomi.
Baca juga: “Presiden Prabowo Berhalangan Hadir di Harlah ke-100 NU”
Fundamental Ekonomi Menjadi Kunci Penguatan Rupiah
Purbaya menekankan bahwa kekuatan rupiah sangat bergantung pada fundamental ekonomi nasional.
Perbaikan fundamental harus dilakukan secara cepat, konsisten, dan terukur.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi akan memberi dampak luas bagi masyarakat.
Dampak tersebut mencakup peningkatan kesejahteraan dan daya beli masyarakat.
Ekonomi yang solid juga meningkatkan kepercayaan pelaku usaha dan investor.
Kepercayaan tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Purbaya menilai Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang masih besar.
Potensi itu perlu dioptimalkan melalui reformasi struktural dan kebijakan fiskal yang kredibel.
Arus Modal Asing Dorong Nilai Tukar Rupiah
Kondisi ekonomi yang membaik akan meningkatkan daya tarik Indonesia bagi investor asing.
Investor asing mencari negara dengan prospek pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan.
Ketika investasi asing langsung atau FDI masuk, pasokan devisa akan meningkat.
Peningkatan devisa tersebut mendorong penguatan rupiah secara alami.
“Ketika ekonomi membaik dan kepercayaan tumbuh, modal akan masuk dengan sendirinya,” ujar Purbaya.
Ia menilai mekanisme pasar akan bekerja seiring membaiknya persepsi investor.
Purbaya menambahkan bahwa konsistensi kebijakan menjadi faktor penting bagi investor.
Ketidakpastian kebijakan dapat menahan masuknya arus modal asing.
Nilai Tukar Dinilai Belum Cerminkan Kondisi Fundamental
Menkeu menilai posisi rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi Indonesia.
Ia menyebut tekanan rupiah lebih dipengaruhi faktor global.
Pada penutupan perdagangan Selasa, rupiah tercatat menguat di pasar spot.
Rupiah menguat 44 poin atau 0,26 persen menjadi Rp16.754 per dolar AS.
Penguatan tersebut terjadi dari posisi sebelumnya di level Rp16.798 per dolar AS.
Meski menguat, rupiah masih berada di atas asumsi nilai tukar APBN.
Purbaya menyebut nilai tukar ideal berada di sekitar Rp16.500 per dolar AS.
Level tersebut dinilai sejalan dengan asumsi makro fiskal pemerintah.
Pemerintah Pastikan Stabilitas Terjaga
Purbaya menepis kekhawatiran bahwa kondisi rupiah dapat memicu krisis ekonomi.
Ia menegaskan situasi saat ini berbeda jauh dengan krisis 1997 hingga 1998.
Menurutnya, stabilitas ekonomi nasional kini jauh lebih terkendali.
Koordinasi antar otoritas berjalan lebih kuat dan terintegrasi.
Selain Bank Indonesia, terdapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK.
KSSK terdiri dari Kementerian Keuangan, OJK, dan Lembaga Penjamin Simpanan.
Sebagai Menteri Keuangan, Purbaya juga menjabat Ketua KSSK.
Ia menyebut koordinasi rutin dilakukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Antisipasi Dampak Penguatan Dolar AS
Purbaya menyatakan akan menggelar rapat untuk memitigasi dampak penguatan dolar AS.
Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ia menilai penguatan dolar global masih menjadi tantangan utama.
Namun, kondisi tersebut belum berada pada level yang membahayakan ekonomi nasional.
Purbaya menargetkan rupiah tetap bergerak di bawah level Rp17.000 per dolar AS.
Ia menyebut level tersebut masih aman bagi stabilitas ekonomi dan fiskal.
“Saya percaya bank sentral punya kemampuan untuk mengendalikan itu,” kata Purbaya.
Ia optimistis koordinasi kebijakan akan tetap berjalan efektif.
Melalui perbaikan fundamental dan koordinasi kebijakan, pemerintah tetap optimistis.
Rupiah dinilai masih memiliki ruang untuk menguat dalam jangka menengah.
Penguatan tersebut sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan pasar.
Stabilitas global dan kebijakan domestik akan menjadi faktor penentu utama.
Purbaya menegaskan pemerintah akan fokus menjaga kredibilitas kebijakan.
Langkah itu penting untuk memastikan stabilitas ekonomi yang berkelanjutan.
Ke depan, pemerintah berharap rupiah mencerminkan kekuatan ekonomi nasional.
Dengan fundamental yang kuat, penguatan rupiah dinilai bukan sekadar harapan.
Baca juga: “Purbaya soal IHSG Masih Merah: Kalau Saya Bakal Serok Bawah”




Leave a Reply