masgdl.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf, memberikan penjelasan resmi terkait absennya sejumlah tokoh penting.
Ketidakhadiran tersebut terjadi dalam peringatan Hari Lahir ke-100 Nahdlatul Ulama yang digelar di Istora Senayan, Jakarta.
Tokoh yang berhalangan hadir antara lain Presiden Prabowo Subianto, Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, dan Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf.
PBNU menegaskan bahwa absennya para tokoh tersebut bukan disebabkan persoalan internal organisasi.
Gus Yahya menyampaikan bahwa seluruh ketidakhadiran telah dikomunikasikan secara resmi sebelum dan saat acara berlangsung.
PBNU memastikan rangkaian acara Harlah tetap berjalan khidmat dan sesuai agenda nasional organisasi.
Baca juga: “Yaqut Cholil Qoumas Diperiksa KPK Terkait Kuota Haji”
Presiden Prabowo Berhalangan Hadir karena Tugas Kenegaraan
Gus Yahya menjelaskan bahwa PBNU telah melakukan koordinasi teknis sejak sehari sebelum pelaksanaan Harlah NU.
Koordinasi tersebut melibatkan Pasukan Pengamanan Presiden dan protokol Istana Kepresidenan.
Menurut Gus Yahya, persiapan teknis kehadiran Presiden telah dilakukan secara lengkap dan berlapis.
Namun, pada saat terakhir, Presiden Prabowo Subianto berhalangan hadir karena agenda kenegaraan mendesak.
“Sejak kemarin sudah dilakukan koordinasi dengan berbagai perangkat terkait kepresidenan,” kata Gus Yahya di Istora Senayan.
Ia menyebut Paspampres dan protokol Istana turut terlibat dalam persiapan teknis kehadiran Presiden.
Gus Yahya menambahkan bahwa Presiden harus menjalankan tugas negara lain pada waktu bersamaan.
Agenda tersebut berkaitan dengan kehadiran tamu-tamu negara yang datang ke Indonesia.
“Pada saat terakhir beliau berhalangan karena ada tugas lain,” ujar Gus Yahya.
PBNU menilai keputusan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab konstitusional Presiden.
PBNU Apresiasi Kehadiran Ketua MPR RI
Meski Presiden tidak hadir, PBNU tetap mengapresiasi kehadiran unsur pimpinan lembaga negara.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani hadir mewakili lembaga negara dalam peringatan Harlah NU.
Gus Yahya menyampaikan penghargaan atas komitmen Ketua MPR dalam menghadiri acara bersejarah tersebut.
PBNU menilai kehadiran Ahmad Muzani mencerminkan dukungan negara terhadap NU.
Harlah ke-100 NU dinilai sebagai momentum penting bagi perjalanan bangsa dan keislaman Indonesia.
Kehadiran perwakilan negara memperkuat posisi NU sebagai mitra strategis pemerintah.
Rais Aam PBNU Absen karena Kendala Kesehatan
PBNU juga menjelaskan alasan ketidakhadiran Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar.
Menurut Gus Yahya, pihaknya telah menerima pemberitahuan sejak malam sebelum acara.
Rais Aam awalnya dijadwalkan hadir dan memberikan khutbah Harlah ke-100 NU.
Namun, kondisi kesehatan beliau tidak memungkinkan untuk menghadiri acara besar tersebut.
“Tadi malam kami mendapatkan kabar beliau mengalami kendala kesehatan,” ujar Gus Yahya.
PBNU menyatakan keputusan tersebut diambil demi menjaga keselamatan Rais Aam.
Sebagai pengganti, khutbah Rais Aam disampaikan oleh Nasaruddin Umar.
Nasaruddin merupakan Rais Syuriyah PBNU dan juga menjabat sebagai Menteri Agama.
PBNU menilai penunjukan tersebut tetap menjaga bobot keilmuan dan spiritual acara.
Khutbah Harlah tetap menjadi bagian penting dalam refleksi satu abad NU.
Sekjen PBNU Saifullah Yusuf Miliki Agenda Terjadwal
Selain itu, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf juga tidak dapat menghadiri acara.
Gus Yahya menjelaskan bahwa Saifullah Yusuf memiliki agenda lain yang telah dijadwalkan sebelumnya.
PBNU menyebut agenda tersebut tidak dapat ditinggalkan karena bersifat penting.
Meski absen, koordinasi internal PBNU tetap berjalan normal selama pelaksanaan Harlah.
Struktur kepanitiaan dan kepemimpinan acara telah dipersiapkan secara matang.
PBNU memastikan tidak ada kendala berarti dalam pelaksanaan kegiatan nasional tersebut.
Harlah ke-100 NU Tetap Berjalan Khidmat dan Bermakna
Peringatan Harlah ke-100 NU menjadi momentum refleksi sejarah dan peran NU bagi Indonesia.
NU menegaskan komitmennya dalam menjaga Islam moderat dan persatuan bangsa.
Acara dihadiri ribuan warga Nahdliyin dari berbagai daerah di Indonesia.
Berbagai tokoh agama, masyarakat, dan pejabat negara turut menghadiri rangkaian acara.
PBNU menekankan bahwa kehadiran fisik bukan satu-satunya ukuran dukungan terhadap NU.
Komitmen kebangsaan dan kerja sama strategis tetap menjadi prioritas bersama.
Gus Yahya menutup dengan menegaskan NU akan terus bersinergi dengan pemerintah.
NU siap berperan aktif dalam pembangunan bangsa pada abad keduanya.
Baca juga: “Harlah 100 Tahun NU, Perindo Apresiasi Peran Dalam Bangun Bangsa”




Leave a Reply