masgdl.com – Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengumumkan bahwa Universitas Al Azhar, Mesir, bersedia memberikan asistensi bagi perguruan tinggi keagamaan di Indonesia. Bantuan tersebut mencakup pengiriman dosen dan tenaga ahli bahasa Arab.
“Al Azhar bersedia mengirim dosen-dosen yang diperlukan, terutama untuk pengajaran Bahasa Arab. Tenaga ahli yang dikirim bisa mencapai 200 hingga 1.000 orang,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Jumat.
Langkah ini merupakan hasil kunjungan kerja Menag ke Mesir bersama jajaran kementerian beberapa hari sebelumnya. Nasaruddin menekankan bahwa kerja sama pendidikan ini menegaskan peran strategis Indonesia dalam pengembangan pendidikan Islam dan bahasa Arab.
Baca juga: “Pemerintah Tetapkan Keraton Kasunanan Hadiningrat Sebagai Cagar Budaya”
Penandatanganan MoU dan Program Strategis Dijadwalkan April 2026
Kerja sama antara Indonesia dan Al Azhar akan diperkuat melalui kunjungan balasan Pemerintah Mesir ke Indonesia. Rencananya, penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan pembahasan program strategis akan berlangsung pada April 2026.
“Al Azhar sangat mendukung kerja sama antara kedua negara, bukan hanya di bidang pendidikan, tetapi juga untuk berbagai kepentingan sebagai negara mayoritas Muslim yang moderat,” jelas Menag.
Program ini diharapkan memperkuat perguruan tinggi Islam di Indonesia dengan menyesuaikan kurikulum dan pengembangan pembelajaran sesuai kebutuhan zaman. Dengan dukungan Al Azhar, pengajaran bahasa Arab dan kompetensi akademik mahasiswa akan meningkat, memperluas akses ke sumber ilmu Islam global.
Indonesia Diakui Strategis dalam Sains, Teknologi, dan Peradaban Islam
Dalam pertemuan dengan ulama dan pejabat Mesir, Menag juga mendapatkan pengakuan internasional mengenai posisi strategis Indonesia. Negara ini dipandang memiliki potensi besar dalam pengembangan sains dan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), untuk mendukung peradaban dunia Islam.
“Kita diminta mengantisipasi perkembangan teknologi, terutama AI, agar menjadi alat memperkuat peradaban kebudayaan, bukan melemahkannya,” ujar Nasaruddin. Menurutnya, banyak ulama dari berbagai negara menilai Indonesia sebagai tempat aman dan strategis untuk pengembangan sains dan teknologi peradaban modern.
Tantangan dan Peluang bagi Indonesia sebagai Epicentrum Peradaban Islam Modern
Menag menegaskan bahwa pengakuan ini sekaligus menjadi tantangan bagi Indonesia untuk menjadi epicentrum baru peradaban dunia Islam modern. Dengan kerja sama internasional seperti ini, Indonesia tidak hanya menguatkan pendidikan Islam domestik tetapi juga meningkatkan kontribusi negara dalam peradaban global.
“Indonesia dituntut menjadi pusat pengembangan peradaban dunia Islam modern. Pendidikan, sains, dan teknologi harus menjadi kekuatan untuk kemajuan umat,” tegas Nasaruddin.
Selain pengiriman dosen dan tenaga ahli bahasa Arab, kerja sama ini membuka peluang kolaborasi riset, pengembangan kurikulum, dan pertukaran mahasiswa serta akademisi. Langkah ini diharapkan mendukung kualitas pendidikan tinggi Islam di Indonesia, memperkuat daya saing global, dan meningkatkan kapasitas intelektual generasi muda Muslim di tanah air.
Baca juga: “Menag Nasaruddin Umar Tinjau Short Course ASFA Foundation di Al-Azhar Kairo”




Leave a Reply